Wednesday, April 11, 2007
Minus Passion
Monday, April 9, 2007
ALIGNED THINKING
Jim Steffen dalam bukunya Aligned Thinking mengurai tentang bagaimana seseorang dapat mengambil alih kendali atas kehidupan dia sendiri dan menjalaninya dengan lebih terarah, bermakna dan puas demi menuju sebuah kesuksesan hidup lahir dan bathin. Buku yang dituturkan lewat cerita dan mudah dipahami ini dapat membantu kita untuk menemukan tujuan hidup kita yang benar-benar kita inginkan dan kemudian mewujudkannya melalui serangkaian tindakan dan cara berpikir yang sederhana namun menakjubkan. Aligned Thinking atau Cara Berpikir Selaras, dapat membantu kita untuk menyelaraskan setiap tindakan dengan apa yang benar-benar kita inginkan.
Apa yang ditawarkan oleh Jim Steffen dalam bukunya Aligned Thinking saya kira dapat membantu kita yang selama ini bekerja di NGO tentang bagaimana mengorganisasikan pikiran dan tindakan untuk membangun dan menggerakkan organisasi/ pekerjaan disamping juga untuk membangun dan mengorganisasikan kehidupan diri kita sendiri. Selaras antara pikiran dan tindakan dimana apa yang benar-benar kita inginkan dalam pikiran kita akan mengarahkan dan mengendalikan setiap tindakan kita, kemudian setiap tindakan akan membawa kita kembali menuju kepada apa yang memang benar-benar kita inginkan. Dan ini akan mampu mengatasi rasa frustasi akibat kita selama ini merasa terlalu banyak yang harus dikerjakan, dapat meningkatkan pencapaian dan kepuasan dimana selama ini kita selalu terus merasa gagal dan tidak puas, mengurangi stres akibat berbagai kerumitan di organisasi, dapat meningkatkan kualitas waktu pribadi dan keluarga dimana hal ini kadang selalu terkesampingkan dalam kerja-kerja di NGO, dan dapat memperbesar makna dan kebahagian hidup kita sendiri. Dasyat memang! Karena Cara Berpikir Selaras jika diterapkan dalam organisasi maka akan dapat membantu organisasi kita untuk meningkatkan produktivitas, motivasi dan bahkan meningkatkan moral orang-orang di organisasi. Bagi klien yang kita layani, kita akan mampu memberikan pelayanan yang lebih baik dan menetapkan tingkat kepuasan dan loyalitas yang lebih tinggi. Dan yang tidak kalah penting bagi diri kita sendiri dan orang lain yang sangat penting bagi kita (keluarga misalnya), cara berpikir selaras akan memberikan suatu proses yang membuat kita semakin akrab dengan cara yang menyenangkan.
Bagaimana melakukan cara berpikir selaras? Apa alat yang digunakan? Uraian dibawah merupakan rumusan dan formulasi yang saya ambil dari buku ”Aligned Thinking”.
Untuk melakukan ”cara berpikir selaras’ Anda paling tidak mesti mempunyai tiga pertanyaan utama yang mesti anda jawab dan jalankan, yaitu pertanyaan tujuan, pertanyaan fokus dan pertanyaan sekarang.
Pertanyaan Tujuan (pertanyaan pertama yang menyelaraskan)
Tanyakan pada diri Anda ”Apa yang benar-benar saya inginkan dari kehidupan dan pekerjaan (tujuan hidup Anda dan tujuan pekerjaan Anda).?” Jawablah dengan melihat nilai-nilai, keinginan dan kebutuhan Anda, lalu buat prioritas. Tinjau kembali tujuan anda setiap hari dan murnikan setiap tiga bulan.
Pertanyaan Fokus (pertanyaan kedua yang menyelaraskan)
”Dengan banyak opsi yang saya miliki, bagaimana saya tetap berfokus pada apa yang benar-benar saya inginkan?”
Sisihkan waktu 1 jam seminggu untuk periode fokus yang tetap. Beri waktu periode fokus barang 5 menit setiap hari di pagi hari dan 15 menit setiap minggu akhir pekan untuk meninjau kembali kemana anda ingin pergi dan merencanakan rutenya.
Tinjau kembali tujuan kehidupan profesional dan pribadi Anda setiap hari!
Jangan gunakan daftar tugas karena ini salah satu sumber frustasi kita ketika kita melihat daftar tugas yang sudah pasti banyak namun kita tidak mampu menyelesaikannya. Sebaiknya gunakan holding pen (daftar tampungan bermuatan tugas) yang memisahkan antara daftar tugas dan daftar prioritas. Setiap kali kita memikirkan sesuatu yang perlu dilakukan maka catatlah di holding pen (sebagai daftar tampungan tugas) kemudian cobalah untuk membuat daftar prioritas dari daftar tampungan tugas tersebut. Dalam daftar prioritas anda hanya akan mencantumkan hal-hal yang dapat secara masuk akal anda selesaikan hari ini atau minggu ini.
Hindari ”virus hanya prioritas bisnis”! Sertakan beberapa prioritas pribadi dalam agenda prioritas Anda!
Di pagi hari jujurlah tentang berapa banyak yang benar-benar dapat anda selesaikan dalam sehari, atau anda akan frustasi di malam hari karena ada tugas yang tidak bisa diselesaikan. Jadikan diri anda orang yang sukses setiap hari karena membuat daftar prioritas yang dapat anda capai dan selesaikan sesuai rencana. Anda pasti merasa puas!
Pertanyaan Sekarang (pertanyaan ketiga yang menyelaraskan)
Pertanyaan ini dibangun atas dasar pandangan bahwa masa lalu sudah berlalu dan masa depan belum ada di sini. Kita berada pada masa sekarang, satu-satunya hal yang kita kendalikan, bukan masa lalu yang sudah lewat atau masa depan yang belum ada. Tanyakan : ”Bagaimana saya mendapatkan hasil terbanyak dari satu-satunya hal yang saya kendalikan – tindakan-tindakan saya sekarang?” Untuk memudahkan kita dalam menjawab pertanyaan tersebut kita bisa pecah pertanyaannya menjadi tiga yaitu apa, mengapa dan bagaimana?
”Apa yang ingin saya lakukan sekarang untuk mendapatkan hasil terbanyak dari tindakan ini?” Agar anda benar-benar tahu apa yang ingin anda lakukan maka untuk menjawabnya anda mesti merumuskan ”hal yang terpenting sekarang bagi anda”. (Mesti merujuk kepada jawaban pertanyaan pertama yaitu berkenaan dengan tujuan hidup dan tujuan pekerjaan Anda).
”Mengapa saya ingin melakukan ini (hal terpenting) sekarang untuk mendapatkan hasil terbanyak dari tindakan ini?” Karena ”apa yang saya lakukan adalah apa yang benar-benar saya inginkan (maksudnya sesuai dengan tujuan hidup/pekerjaan Anda)?”
”Bagaimana saya ingin melakukan tindakan ini sekarang untuk mendapatkan yang terbanyak darinya?” Yaitu dengan cara melibatkan diri secara total dengan apa yang sedang anda lakukan sekarang dan dengan menyisihkan semua hal yang ”bukan merupakan hal penting sekarang” bagi anda. Ketika anda sedang istirahat misalnya lakukan secara total berfokus pada istirahat, ketika bekerja lakukan dengan total dalam pekerjaan, dst. Artinya apapun yang anda lakukan maka lakukanlah hal tersebut secara total dengan melihat ”hal terpenting sekarang” dan mengesampingkan ”hal-hal yang bukan hal terpenting sekarang.”
Bebaskan Diri Anda untuk Memilih Suatu Keputusan/ Tindakan
Dalam mengambil tindakan kadang Anda merasa terbebani dan tidak merasa bebas, padahal dalam berpikir selaras Anda mesti menjadi bebas dalam setiap tindakan. Dan untuk itu Anda mesti merubahnya yaitu dengan menanamkan pemahaman dan sikap kebebasan pada diri Anda dimana ”jika Anda memilih sesuatu yang mesti dilakukan (hasrat utama Anda) maka Anda mesti menerima kondisi yang dibutuhkan (prasyarat dan konsekuensinya)”. Artinya apapun pilihan Anda ada prasyarat dan konsekuensinya maka tetapkanlah untuk memilih dan menentukan sesuatu, terimalah ini sebagai sebuah kenyataan. ”Saya memilih hasrat utama saya, maka saya menerima kondisi yang dibutuhkan untuk itu”
Sekali lagi ”Berpikirlah dan Bertindaklah dengan Cara Berpikir Selaras”
1. Rumuskan tujuan hidup dan pekerjaan anda (apa yang benar-benar Anda inginkan dalam kehidupan Anda dan dalam pekerjaan Anda)!
2. Dalam setiap mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu, tanyakan : Apa ”Hal Terpenting saya Sekarang” berkenaan dengan Apa ”yang Benar-benar saya Inginkan” (tujuan hidup dan tujuan pekerjaa)?
3. Organisasikan dan abaikan semua hal yang ”bukan hal terpenting Anda”!
4. Terlibatlah secara total dalam ”Hal Terpenting Anda Sekarang” dengan fokus penuh.
Singkirkan interupsi dengan cara menjadikannya sebagai informasi baru. Dan ketika informasi baru tersedia, ulangi mulai dari point 2 diatas!
Selamat mencoba! Betapa nyamannya hidup yang lebih selaras, penuh makna dan memberikan kepuasan.
Friday, April 6, 2007
Rumah Impian WALHI Masa Depan!
Green Society Terminals atau kami menyebutnya G-Site!
Kemarin Rabu tanggal 4/4 kami merancang sebuah mimpi bagaimana WALHI Eksekutif Daerah masa depan. Kami bermimpi punya “rumah impian” yaitu sebuah rumah komunitas hijau yang kami beri nama G-Site (Green Society Terminals). Bayangannya adalah rumah impian atau G-Site ini akan menjadi “learning hub”, terminal belajar bersama dan corong bagi komunitas gerakan hijau (baik yang berasal dari para aktivis lingkungan, akademisi, mahasiswa-pelajar dan berbagai komunitas dan kelompok masyarakat lainnya yang peduli terhadap berbagai persoalan lingkungan) untuk memperjuangkan keadilan lingkungan melalui berbagai fasilitasi pertemuan, pengembangan ide dan konsep serta pengembangan data dan informasi. Dari rumah impian inilah energi gerakan lingkungan menjadi terus meluas untuk menularkan kebudayaan environmentalist.
G-Site yang memiliki luas keseluruhan lahannya kurang lebih 1000m3 terletak di lokasi yang strategis, dekat dengan jalan protokol sehingga mudah untuk diakses. Design bangunan dengan
Sebagai terminal belajar bersama komunitas hijau, G-Site dilengkapi dengan fasilitas ”training center” dimana berbagai pelatihan untuk peningkatan kapasitas sumberdaya manusia dilakukan, termasuk pelatihan kader anggota, green studient movement, sahabat Walhi dan berbagai aktivitas pembelajaran lainnya. Terdapat ”taman baca” yang menyediakan berbagai buku dan bahan bacaan lainnya yang berkaitan dengan isu lingkungan dan gerakan sosial. Di sudut kanan ada kedai hijau ”distro live style” yang akan menjual berbagai produk daur ulang dan ramah lingkungan, produk dari komunitas hijau dan berbagai merchandise kampanye WALHI. Ada ”kedai kopi nusantara” yang akan menyajikan berbagai kopi yang berasal dari berbagai daerah di nusantara dan kedai ini dilengkapi dengan fasilitas internet gratis. Setiap hari tidak kurang dari 50 pengunjung yang datang mulai dari hanya untuk bersantai, menikmati kopi nusantara sambil menjelajah ruang maya sampai dengan diskusi-diskusi kecil untuk membangun ide-gagasan bahkan membangun mimpi masa depan, menjadikan tempat ini sebagai sarana interaksi antar komunitas hijau yang cerdas dan produktif.
G-Site diinisiasi dan difasilitasi oleh WALHI tetapi kepemilikannya dimiliki secara bersama oleh publik. Dibangun secara bersama-sama untuk kepentingan bersama semua orang di komunitas hijau dan dapat digunakan oleh siapapun yang peduli terhadap persoalan lingkungan dan sosial kemasyarakatan lainnya. Dan G-Site sebagai rumah impian masa depan WALHI merupakan cikal bakal lahirnya puluhan, ratusan dan ribuan bahkan jutaan komunitas-komunitas impian peduli lingkungan yang bermartabat, mandiri dan sejahtera.
Memang ini baru sebuah mimpi, namun ini bukanlah mimpi yang kosong bukanlah angan-angan, ini adalah mimpi yang dibangun dari hasrat yang kuat, dari akumulasi kekuatan orang-orang yang memimpikannya, dari mimpi yang sudah diniatkan, mimpi yang dirancang untuk diwujudkan dan ......ini tidak akan terbendung.
Thursday, March 22, 2007
Tuesday, January 9, 2007
Catatan 2006
Pengantar
Terjadinya banjir besar di empat kabupaten pada bulan Juni lalu kiranya cukup memberikan gambaran tentang bagaimana kondisi lingkungan hidup terutama kawasan hutan di Kalimantan Selatan yang mengalami degradasi cukup parah. Belum lagi selesai berbenah akibat dampak banjir tersebut, pada bulan Agustus sampai dengan bulan November masyarakat Kalsel dihadapkan lagi pada persoalan yang tidak kalah serius yaitu kebakaran hutan dan lahan yang menimbulkan terjadinya kabut asap dan berdampak luas terhadap berbagai aspek kehidupan terutama bagi kesehatan manusia. Pada musim hujan banua ini mengalami musibah kebanjiran dan musim kemarau kita mengalami kekeringan, kebakaran hutan dan lahan yang berujung kepada bencana asap yang cukup menderitakan sebagian besar masyarakat kita.
Bencana banjir, kekeringan dan kabut asap yang terjadi pada tahun 2006 di banua ini jelas bukanlah karena faktor alam semata namun lebih kepada disebabkan oleh kesalahan manusianya yang salah urus dalam mengelola sumber daya alam dan lingkungan. Sebagaimana disebutkan oleh Kartodihardjo dan Jhamtani (2006), “Bencana pembangunan, terjadi sebagai gabungan faktor krisis lingkungan akibat pembangunan dan gejala alam itu sendiri, yang diperburuk dengan perusakan sumberdaya alam dan lingkungan serta ketidakadilan dalam kebijakan pembangunan sosial.” Pembangunan yang hanya menekankan kepada kepentingan ekonomi semata pada akhirnya telah mengamcam keselamatan keberlangsungan kehidupan rakyat. Dan ketika bencana telah datang, pertanyaan kita adalah siapa yang paling dirugikan akibat terjadinya bencana tersebut? Apakah para pejabat-penguasa, para pengusaha atau rakyat marginal kebanyakan?
Pembangunan Tak Berprespektif Lingkungan
Pembangunan ekonomi yang berlangsung selama ini telah menempatkan sumber daya alam hanyalah sebagai onggokan komoditi semata. Oleh karenanya eksploitasi terhadap sumberdaya alam dilakukan secara massif dan berlebihan dengan mengabaikan aspek ekologi-lingkungan, sosial dan kemungkinaan dampak bencana yang ditimbulkannya. Jikapun ada beberapa kebijakan dan pembangunan yang pro lingkungan namun tetap saja tidak mampu membendung laju kerusakan lingkungan yang terus berlangsung karena posisinya yang memang hanya dijadikan sebagai “alat pelengkap” saja agar kelihatan akomodatif dan bervisi berkelanjutan. Dan “pembangunan berkelanjutan” yang selama ini digandang-gadang oleh pemerintah ternyata pada kenyataannya masih tetap mengedepankan kepentingan ekonomi (jangka pendek) ketimbang keberlanjutan kehidupan itu sendiri. Hanya “pembangunannya” yang terus berlanjut sedangkan keberlangsungan perikehidupannya terabaikan. Eksploitasi sumberdaya alam yang dilakukan sudah melebihi daya dukung lingkungan yang ada dan melampaui ambang batas.
Berbagai kebijakan pemerintah baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat cenderung mempermudah jalan bagi terlaksananya eksploitasi yang massif tanpa memperhitungkan keseimbangan lingkungan. Kawasan-kawasan hutan yang semestinya dilindungi dan berfungsi sebagai kawasan penyangga justru di eksploitasi dengan diberikannya izin pertambangan di kawasan hutan lindung, padahal hampir 50% hutan di Kalsel telah mengalami deforestasi. Kapasitas terpasang industri perkayuan di Kalsel yang besarnya melebihi 3 juta m3 pertahun jelas sangat jauh melebihi kemampuan daya pasok hutan alam yang ada secara lestari. Berdirinya industri kayu serpih (chip mill) di desa Ale-ale kecamatan Tanjung Seloka kabupaten Kotabaru dan rencana pembangunan industri bubur kertas (pulp) di desa Sungai Cuka kecamatan Satui kabupaten Tanah Bumbu dengan kapasitas industri sebesar 600 ribu sampai dengan 1 juta ton pertahun justru akan semakin menambah gap antara suply dan demand terhadap kayu sehingga pemenuhan kebutuhannya akan mengancam lingkungan dan hutan alam yang ada. Kawasan pegunungan Meratus sebagai bagian yang terpenting dalam menjaga kestabilan lingkungan hidup di Kalsel dan merupakan “benteng pertahanan terakhir” terus dibabat dan digusur keberadaannya baik oleh aktivitas pembalakan kayu maupun oleh aktivitas pertambangan legal dan illegal. Ditambah dengan terbitnya ratusan izin Kuasa Pertambangan Batubara (KP) dan puluhan izin PKP2B (terdapat lebih dari 300 izin pertambangan di Kalsel), 3 HPH aktif, 4 IPK aktif, 6 HTI aktif dan 46 izin perkebunan skala besar maka lengkaplah sudah potret pembangunan yang tidak berprespektif lingkungan.
Menuai Bencana
Bulan Juni 2006 lalu banjir telah menyapu empat kabupaten yaitu Kab. Banjar, Tanah Laut, Tanah Bumbu dan Kotabaru. Dengan korban 12.2048 jiwa, 9 orang meninggal dunia, ribuan ha sawah terendam, ribuan rumah terendam, ratusan km jalan mengalami kerusakan dan kerugian total akibat bencana tersebut Rp. 146,457 milyar. (Sumber Presentasi Wagub Kalsel 2006). Ini baru yang terdata oleh pemerintah, bagaimana dengan yang tidak tercatat dan kerugian sosial lainnya, saya yakin realitasnya jauh lebih besar.
Kemudian tidak berselang lama, bulan Agustus terjadi kebakatan hutan dan lahan. Kabut asappun mulai menjadi masalah dan puncaknya pada bulan november 2006. Menurut kepada Dinkes Kalsel Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) Oktober 2006 memperlihatkan kandungan partikulat (PM 10) sangat tinggi hingga mencapai 640 u/m3, padahal batas standar sehat hanya 150 u/m3 artinya kondisi udara sudah tidak sehat. Lebih lanjut menimbulkan beberapa penyakit seperti ISPA, Iritasi mata, Iritasi kulit, dan ganguan kejiwaan bagi masyarakat. Dan selain berdampak terhadap kesehatan manusia kabut asap juga berdampak terhadap berbagai aktivitas seperti memacetkan arus trasportasi (air, darat dan udara), sekolah yang mesti diliburkan, menghambat aktivitas diluar rumah/ ruangan dan jelas menggangu berbagai aktivitas perekonomian dan sosial masyarakat lainnya.
Dari fenomena bencana yang terjadi, aspek penting untuk diperhatikan adalah pola perusakan ekologi, pola iklim dan penanganan yang dilakukan oleh pemerintah. Pada musim kemarau kita selalu kekurangan air dan pada musim hujan kita kebanjiran, ini mengindikasikan bahwa semua infrastruktur yang dibuat untuk merekayasa lingkungan telah gagal, karena sumber masalah tidak ditangani dengan sungguh-sungguh. Krisis demi krisis akibat salah urus ini kemudian berujung pada bencana ekologis yang kian nyata terlihat.
Bencana banjir, kekeringan, kebakaran lahan dan hutan dan kabut asap tidak hanya dilihat dari proses alamiah dan dampaknya secara insedentil, tetapi juga dilihat dari faktor pendukung lainnya dan akar penyebabnya. Sebagai manusia yang di karunia akal dan pemikiran mestinya harus ada upaya-upaya preventif dan maksimal dalam menghadapi bencana tersebut. Namun hampir di setiap bencana respon dan penanganan bencana terasa lambat dan jalan ditempat. Pemerintah dalam hal ini tidak memaksimalkan lembaga-lembaga yang memiliki fungsi dan peranan dalam menghadapi bencana-bencana tersebut. Belum lagi kalau kita berbicara tentang pola penanggulangan bencana ataupun pengelolaan resiko bencana, hampir tidak ada upaya transformatif untuk menciptakan perubahan kondisi tersebut. Padahal kita memiliki orang-orang yang mumpuni dalam bidang tersebut.
Jika kita cermati penanganan bencana di Kalsel dilaksanakan dengan pendekatan konvensional dan dilakukan dengan mekanisme eksternal. Rencana kegiatan penanggulangan bencana (pada tahap-tahap prevensi, mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, rehabilitasi, rekontruksi) yang tertuang pada keputusan Menko Kesra, terlihat memposisikan masyarakat sebagai obyek. Jika kita telusuri, ada pemahaman yang kurang tepat tentang bencana tersebut. Bencana selama ini umumnya oleh pemerintah dianggap sebagai gangguan terhadap proses pembangunan yang normal, kejadian yang berdiri sendiri, tidak serta merta (hubungan sebab akibat), sehingga penanganannya pun hanya bersifat darurat. Pemahaman yang kurang tepat ini tentunya berpengaruh pula terhadap pola penanganan bencana. Pola emergency action yang selama ini di pakai hanya bertujuan untuk memperbaiki situasi menjadi sebelum terjadi seperti bencana, sehingga dana yang dikeluarkan pun dari tahun ketahun cenderung meningkat. Sementara upaya penanganan jangka panjang dalam bentuk pengelolaan resiko bencana (Disaster Management Risk) sebagai upaya kesiapan dan minimalisir dampak akibat bencana kurang mendapat perhatian. Pemerintah belum mampu menjamin dan memberikan perlindungan terhadap hak-hak rakyat atas lingkungan hidup yang baik, aman, nyaman dan sehat.
Sebenarnya bencana (disaster) merupakan fenomena sosial akibat kolektif atas komponen ancaman (hazard) yang berupa potensi akan terjadinya kejadian (fenomena) alam dan atau buatan di satu pihak, dengan kerentanan (vulnerability) komunitas di pihak lain. Bencana terjadi apabila komunitas mempunyai tingkat kemampuan yang lebih rendah dibanding dengan tingkat ancaman yang mungkin terjadi padanya. Ancaman menjadi bencana apabila komunitas rentan, atau memiliki kapasitas lebih rendah dari tingkat bahaya tersebut, atau bahkan menjadi salah satu sumber ancaman tersebut.
Penutup
Dari berbagai kejadian bencana banjir, kekeringan, kebakaran lahan dan hutan serta kabut asap yang terjadi pada tahun 2006 tersebut jelas sekali memperlihatkan bahwa pengelolaan sumberdaya alam yang tidak bijaksana adalah penyebab utamanya. Disamping itu juga kegiatan dan perencanaan pembangunan yang dilakukan sama sekali tidak memperhitungkan dampak yang akan terjadi serta tidak mengakomodir resiko bencana yang mungkin terjadi (tanpa ada Managemen Risiko), dimana pencegahan bencana bukan menjadi bagian dari suatu proses pembangunan, sehingga yang dilakukan bukan pencegahan tetapi justru lebih pada penanganan bencana. Padahal apabila perencanaan suatu kegiatan pembangunan digabungkan dengan Risk Management maka dalam perencanaan pembangunan sudah diperhitungkan segala kemungkinan yang terjadi apabila ada kegiatan pembangunan atau pemanfaatan SDA disuatu kawasan.
Juga terlihat jelas bahwa pengambilan manfaat dari sumberdaya alam tidak memperhitungkan dampak secara ekologi serta sosial. Pengambilan manfaat atas SDA yang dilakukan secara tidak bijak ini berdampak buruk terhadap semua aspek kehidupan. Pembangunan yang salah kaprah telah menyebabkan berbagai degradasi dan kerusakan lingkungan. Krisis ekologi terjadi dan berujung kepada terjadinya bencana dan akhirnya berlanjut kepada semakin terpuruknya tatanan kehidupan sosial ekonomi masyarakat, kemiskinan, pengungsi, ketidakberdayaan, wabah penyakit, meningkatnya kejahatan dan konflik serta penyakit sosial lainnya.
Jika kita saat ini telah menuai bencana yang merupakan buah dari pembangunan selama ini, maka patut kita untuk bertanya kembali bahwa pembangunan itu sebenarnya untuk apa dan untuk kepentingan siapa?
Tuesday, December 19, 2006
Tes Toefl
Thursday, December 14, 2006
Terinfeksi Cacar Air
Aku memang belum pernah kena cacar sebelumnya, walaupun dulu waktu sekolah dasar aku pernah diimunisasi cacar namun ternyata kali ini tidak mampu membentung penyakit tersebut. Dan yang menjadi persoalan besar bagiku adalah waktunya yang tidak tepat, dimana penyakit ini menginfeksi diriku ketika aku lagi menjalani kursus singkat bahasa Inggris di Jakarta dan tidur di kantor Eknas WALHI dengan fasilitas ”ala kadarnya”. Penyakit ini membuat aku sudah 4 hari tidak bisa masuk belajar dan kemungkinan besokpun aku belum bisa ikut kursus. Payahnya lagi kawan-kawan tidak membolehkan aku mandi, katanya cacarnya akan semakin banyak jika kena air, belakangan aku baru tahu hal tersebut merupakan informasi yang salah karena justru jika kena cacar kita dianjurkan untuk mencuci kulit atau mandi sesering mungkin dengan sabun atau air yang diberi obat antiseptik.
Kata ilmu kesehatan, jika kita sudah pernah kena cacar air, maka kita tidak akan pernah kena lagi karena kita sudah memiliki kekebalan. Tetapi virusnya bisa tetap tertidur di dalam tubuh, lalu kadang menjadi aktif kembali dan menyebabkan herpes zoster. Gejalanya mulai timbul 10 – 21 hari setelah terinfeksi. 24-36 jam setelah timbulnya gejala awal, muncul bintik-bintik merah datar (makula). Kemudian bintik tersebut menonjol (papula), membentuk lepuhan berisi cairan (vesikel) yang terasa gatal, yang akhirnya akan mengering. Proses ini memakan waktu selama 6-8 jam. Selanjutnya akan terbentuk bintik-bintik dan lepuhan yang baru. Pada hari kelima, biasanya sudah tidak terbentuk lagi lepuhan yang baru, seluruh lepuhan akan mengering pada hari keenam dan menghilang dalam waktu kurang dari 20 hari.
Anak-anak biasanya sembuh dari cacar air tanpa masalah. Tetapi pada orang dewasa maupun penderita gangguan sistem kekebalan, infeksi ini bisa berat atau bahkan berakibat fatal dengan terjadinya komplikasi berupa , Pneumonia karena virus, peradangan jantung, peradangan sendi, peradangan hati, infeksi bakteri (erisipelas, pioderma, impetigo bulosa), Ensefalitis (infeksi otak).
Bagaimana cara mengobatinya?
Untuk mengurangi rasa gatal dan mencegah penggarukan, sebaiknya kulit dikompres dingin. Bisa juga dioleskan losyen kalamin, antihistamin atau losyen lainnya yang mengandung mentol atau fenol.
Untuk mengurangi resiko terjadinya infeksi bakteri, sebaiknya:
- kulit dicuci sesering mungkin dengan air dan sabun
- menjaga kebersihan tangan
- kuku dipotong pendek
- pakaian tetap kering dan bersih
Kadang diberikan obat untuk mengurangi gatal (antihistamin). Jika terjadi infeksi bakteri, diberikan antibiotik. Jika kasusnya berat, bisa diberikan obat anti-virus asiklovir. Untuk menurunkan demam, sebaiknya gunakan asetaminofen, jangan aspirin. Obat anti-virus boleh diberikan kepada anak yang berusia lebih dari 2 tahun. Asiklovir biasanya diberikan kepada remaja, karena pada remaja penyakit ini lebih berat. Asikloir bisa mengurangi beratnya penyakit jika diberikan dalam wakatu 24 jam setelah munculnya ruam yang pertama. Obat anti-virus lainnya adalah vidarabin.
Untuk mencegah cacar air diberikan suatu vaksin. Kepada orang yang belum pernah mendapatkan vaksinasi cacar air dan memiliki resiko tinggi mengalami komplikasi (misalnya penderita gangguan sistem kekebalan), bisa diberikan immunoglobulin zoster atau immunoglobulin varicella-zoster. Vaksin varisela biasanya diberikan kepada anak yang berusia 12-18 bulan.
Tulisan lengkap tentang cacar bisa anda dapat di http://www.medicastore.com/
Sekarang aku dalam proses sembuh dan memang harus segera sembuh. Aku mesti sehat, masuk kursus lagi dan ujian toefl tanggal 20/12. Godbye cacar!