Wednesday, March 19, 2008

VISI DAN MISI sebagai Kandidat WALHI1

Dalam merumuskan visi misi ini saya tetap mengacu kepada visi misi dan mandat organisasi karena cita-cita organisasi bukan dibangun hanya atas kehendak pemimpinnya semata. Tugas pemimpin WALHI adalah bagaimana memajukan organisasi dan memastikan berjalankan visi misi dan mandat organisasi yang telah dirumuskan bersama konstituen dalam forum-forum resmi WALHI secara demokratis dan partisipatif.
Visi misi pemimpin mengelaborasi berbagai cita-cita dan mimpi para konstituennya dengan melihat kondisi obyektif yang ada kedalam visi misi praktis-nya terhadap organisasi yang dipimpinnya.

Visi Praktis Terhadap WALHI

Sebagai organisasi jaringan advokasi lingkungan hidup tertua dan terbesar di Indonesia WALHI kedepan mesti memantapkan diri lebih maju bukan hanya sebagai lokomotif gerakan lingkungan tetapi lebih jauh lagi mampu menjadi lokomotif gerakan sosial, dan untuk itu Visi saya terhadap WALHI kedepan adalah Mewujudkan organisasi WALHI mampu mendorong isu lingkungan hidup menjadi agenda utama perubahan sosial di Indonesia.


Misi
Dalam mewujudkan organisasi WALHI mampu mendorong isu lingkungan hidup agar menjadi agenda utama terjadinya perubahan sosial di Indonesia, saya memberi focus kepada 3 prasyarat yang mesti dipenuhi yaitu : kekuatan rakyat; kekuatan organisional WALHI; dan kekuatan hukum dan kebijakan yang berpihak kepada kepentingan rakyat dan lingkungan.

Misi 1
Agar gerakan WALHI ditopang oleh kekuatan rakyat, saya menetapkan misi untuk Menjadikan organisasi WALHI menjadi organisasi lingkungan yang berbasis komunitas (gerakan akar rumput) dengan cara menciptakan kader-kader WALHI yang mampu melakukan pengorganisasian dan membangun komunitas-komunitas peduli lingkungan yang tersebar di seluruh Eksekutif Daerah WALHI.

Misi 2
Pertarungan-pertarungan terbesar persoalan lingkungan hidup dan pengelolaan sumberdaya alam akan terjadi di daerah-daerah dimana para Eksekutif Daerah (WALHI Daerah) beraktivitas sehingga untuk itu daya dobrak WALHI kedepan mesti ditopang oleh WALHI Daerah yang kuat. Oleh karena itu misi kedua saya adalah memperkuat kapasitas dan kemandirian WALHI Daerah. Dan ini akan terjadi jika kebijakan Eksekutif Nasional mampu memfasilitasi transpormasi pengetahuan dan kapasitas yang berasal dari seluruh komponen WALHI dan menempatkan WALHI-WALHI di daerah sebagai pusat aktivitas perjuangan yang dilakukan. Kemampuan dan daya dobrak organisasi ini akan kuat secara nasional jika WALHI Daerah kuat dan lebih mandiri.

Misi 3
WALHI menyadari bahwa dalam mewujudkan cita-citanya jalan yang selama ini ditempuh melalui gerakan sosial-advokasi semata ternyata tidaklah cukup mampu mengubah kebijakan negara dan situasi sosial-ekonomi-politik yang berwatak neolib yang menguras dan menindas kearah keberpihakan kepada kepentingan lingkungan dan kepentingan rakyat. Sehingga untuk itu pada PNLH IX di Mataram tahun 2005 yang lalu WALHI memutuskan untuk membangun sebuah kekuatan organisasi politik diluar tubuh WALHI yang akan memperjuangkan cita-cita WALHI melalu ranah politik praktis yang dalam perjalanannya lahirlah yang namanya Sarekat Hijau Indonesia. WALHI sendiri tetap sebagai organisasi penekan (pressure groups) yang independen.
Dua organ ini mesti berjalan sinergis untuk saling memperkuat sehingga mampu mendorong terjadinya perubahan sosial-politik kedepannya sebagaimana yang dicita-citakan dan ini mesti terkawal dengan baik jika kita tidak ingin gerakan yang kita bangun selama ini menjadi mundur kembali. Untuk itu misi ketiga saya adalah Memperkuat gerakan politik lingkungan melalui sinergisitas gerakan sosial yang dibangun oleh WALHI dengan gerakan politik yang dibangun sayap politik WALHI yaitu Sarekat Hijau Indonesia.

Friday, February 15, 2008

Bagaimana Membuat PNLH X WALHI Menjadi Tidak Biasa

Saya membayangkan bagaimana proses suksesi pada PNLH X WALHI menjadi alat bagi pendidikan politik organisasi ini dan penyebarluasan gagasan yang mau ditawarkan WALHI kepada publik. Bagaimana caranya?

Karena kerja WALHI adalah kerja tim (kolektif), maka diharapakan para kandidat EN dari sekarang sudah menyiapkan ”ancang-ancang” tim (kabinet) yang akan memperkuat kerja-kerjanya kedepan. Dalam melakukan rekruitment tim tersebut, sebaiknya kandidat menghindarkan pilihan atas dasar suka tidak suka atau berdasarkan konsesi dukungan namun lebih didasarkan kepada kebutuhan dan kapasitas orang yang akan direkrut tersebut termasuk loyalitas terhadap gerakan yang diusung WALHI. Harapannya jika semua ini sudah dipersiapkan sebelum PNLH maka siapapun kandidat yang terpilih akan bisa segera ”on track” menjalankan kepengurusan dan bisa menghemat waktu hanya untuk urusan yang beginian.

Kemudian, sebaiknya para kandidat baik kandidat EN maupun DN melakukan kunjungan (canvasing) dengan difasilitasi oleh organisasi ke beberapa daerah untuk bertemu dengan anggota yang ada di daerah tersebut (tidak mesti ke semua daerah dan di beberapa daerah lainnya bisa juga diwakilkan kepada juru bicaranya). Hal ini dimaksudkan bukan semata untuk meraih dukungan suara tetapi agar terjadi komunikasi gagasan dan konsep untuk bagaimana membangun dan memajukan WALHI kedepan. Kandidat akan menyampaikan konsep dan gagasannya untuk mendapatkan umpan balik dari para anggota. Selain itu juga para kandidat dapat menangkap berbagai pandangan dan ekspektasi yang berkembang di anggota terhadap WALHI kedepan. Harapannya dengan terjadinya komunikasi tersebut maka akan terbangun kesepamahan bersama terhadap apa yang akan dilakukan kedepan dan jika kandidat tersebut terpilih maka tentunya akan mempermudah jalannya organisasi ini karena banyak orang sudah paham bahwa organisasi ini akan dibawa kemana dan seperti apa. Dengan demikian kandidat terpilih bisa segera ”on track” menjalankan konsep dan gagasannya.

Suksesi PNLH bisa juga dibuat untuk menyebarluaskan gagasan dan konsep WALHI dalam menjawab persoalan lingkungan hidup kepada publik. Caranya adalah dengan menghadirkan para kandidat di forum-forum publik dan pertemuan dengan kelompok-kelompok masyarakat sipil utama lainnya, tokoh dan pejabat publik yang relevan seperti DPR RI dan DPD. Selain membuat prakondisi bagi para kandidat dalam berinteraksi dengan kelompok-kelompok utama diluar juga agar ”pesan” WALHI bisa sampai kepada mereka melalui para kandidat tersebut.

Aktivitas tersebut sekaligus melatih para kandidat dalam meningkatkan kapasitasnya berkomunikasi kepada publik dan ini mesti menjadi tradisi dalam setiap suksesi PNLH-nya WALHI. Dan dengan demikian maka ajang suksesi PNLH bukan hanya sekedar ajang ”elektoral vote” semata namun juga sebagai alat bagi pendidikan politik kader pemimpin WALHI dan penyebarluasan konsep dan gagasan WALHI terhadap persoalan lingkungan kepada publik.

Sunday, December 30, 2007

Angin Arus Bawah

Hari ini saya merampungkan mengirim seluruh berkas persyaratan pencalonan diri saya sebagai kandidat Direktur Eksekutif Nasional WALHI. Sebuah tantangan dan pengalaman baru bagi saya untuk bertarung sebagai kandidat fungsionaris WALHI di nasional. Cukup menarik dan banyak hal pembelajaran yang saya dapatkan semenjak beberapa bulan lalu saya menyatakan diri untuk maju. Pro dan kontra, namun semua itu justru semakin memantapkan saya untuk terus maju. Saya menikmatinya sebagai sebuah tantangan yang justru membangkitkan daya kreativitas dan terus mengasah kemampuan leadership saya. Keyakinan saya adalah tidak akan ada sesuatu yang besar tanpa ada sesuatu yang dipertaruhkan. Bagi saya perubahan besar akan terjadi jika kita mau bergeser dari "zona aman", mempertaruhkan diri dan siap meraih kemenangan baru.

WALHI adalah salah satu organisasi lingkungan terbesar di Indonesia yang memiliki 25 kantor di 25 provinsi dan lebih dari 400an anggotanya. Tantangan WALHI kedepan bukan saja yang berasal dari faktor ekstenal berupa ancaman terhadap kondisi lingkungan hidup di Indonesia yang terus kian memburuk dan kuatnya tekanan politik negara sebagai konsekuensi dari sistem tatanan ekonomi politik neolib yang kapitalistik, menghisap dan menindas. WALHI juga dihadapkan pada persoalan bangunan konsolidasi internal dan sistem kaderisasi yang masih timpang. Menghadapi tantangan eksternal saya kira gerakan WALHI tidak cukup hanya dengan mengandalkan advokasi kebijakan dan upaya litigasi semata atau berputar hanya pada tataran kampanye. Terbukti berbagai advokasi kebijakan dan litigasi yang dilakukan oleh WALHI hampir rontok disemua tingkatan. Sehingga untuk itu WALHI mesti mengubah arah dan strategi gerakannya dengan menekankan kepada penguatan gerakan akar rumput dengan membangun komunitas-komunitas peduli lingkungan di masing-masing WALHI daerah yang akan menjadi kekuatan pendukung WALHI. Menghadapi tantangan internal, paling tidak ada tiga agenda utama yang mesti dilakukan yaitu; pertama, melakukan internalisasi ke-WALHI-an kesemua level organ WALHI; kedua, melakukan penguatan WALHI melalui penguatan WALHI-WALHI daerah dengan menempatkan WALHI-WALHI di daerah sebagai pusat aktivitas gerakan advokasi yang dilakukan; ketiga, memperbaiki sistem pengkaderan di WALHI melalui keterpaduan berbagai konsep pendidikan yang selama ini sudah ada di WALHI dan menjadikannya terstruktur dan sistematis.

Sekarang saya sudah siap untuk menghembuskan angin segar dalam membangun gerakan lingkungan hidup di Indonesia. Angin ini bukanlah angin yang bertiup dari atas ke bawah namun sebaliknya arus angin bawah yang berhembus menuju atas. Angin arus bawah yang sebelumnya berpacu dengan derasnya luapan air-air sungai yang meluap membanjiri rumah dan sawah penduduk, angin yang menelisik miris diantara pohon-pohon tumbang, angin yang menguap panas di rawa-rawa gambut dan diantara kebakaran lahan dan hutan, angin yang terjebak diantara lobang-lobang tambang. Angin ini adalah angin arus bawah yang berhimpun dan bergerak terus melaju ke atas.......dan jika memang semua arus bawah berhimpun maka arus angin ini tidak akan terbendung lagi!

Thursday, November 22, 2007

Transparansi + Inspirasi

Kemarin ikut pertemuan Jaringan Masyarakat Sipil untuk Transparansi Migas dan Pertambangan, 19-21/11 di Hotel Santika, Jakarta. Kegiatan ini diinisiasi oleh Publish What You Pay (PWYP) sebuah jaringan Internasional yang mengkampanyekan dan mendorong pentingnya transparansi di sektor industri ekstraktif (migas dan pertambangan).

Saya sangat senang sekali karena dalam pertemuan tersebut saya bertemu dengan para inspirator seperti mas Dani Moenggoro, mbak Budsi dan mbak Kiki. Mas Dani dan mbak Budsi yang fasilitasi pertemuan, dan walaupun sebagian besar prosesnya saya sudah cukup familiar namun saya tidak pernah bosan karena selalu ada kreatifitas baru yang disuguhkan. Selalu menginspirasi! Dan saya kembali mendapatkan energi baru yang menyegarkan. Bahkan lengkapnya lagi saya ketemu kawan-kawan dari daerah lainnya yang juga tidak kalah memberikan inspirasi-inspirasi baru buat saya, seperti Dony Kaltim dengan pengembangan Informasi Teknologinya. Luar biasa!

Alhasil, dalam pertemuan tersebut berhasil merumuskan arah dan strategi kedepan dalam mendorong adanya transparansi di sektor ekstraktif ini dengan mendasarkan bukan saja pada agenda transparansi pada anggaran/keuangan semata tetapi juga tranparansi perizinan sampai kepada transparansi kontrak. Selain itu juga disepakati terbentuknya jaringan nasional yang diberi nama PWYP-Indonesia sebagai wadahnya.

Sebagaimana pengetahuan umum, industri ekstraktif migas dan pertambangan merupakan industri yang tidak berkelanjutan karena sifatnya yang tak terbarukan (unrenewable). Disatu sisi dipromosikan untuk menangguk devisa negara yang besar namun disisi lain industri ekstraktif ini menyimpan segudang persoalan dan dampak negatif yang besar bagi lingkungan dan masyarakat. Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar negara-negara berkembang yang kaya akan sumberdaya alam penduduknya masih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan, sebuah penomena kutukan sumberdaya.

Harapannya, dengan transparanya pengelolaan di sektor ini maka memudahkan rakyat untuk melakukan kontrol dan membuat pilihan mereka dalam menentukan bagaimana pengelolaan sektor ini mesti dilakukan termasuk pilihan untuk menerima atau menolak adanya industri ini di wilayah mereka.

Dengan terbentuknya jaringan ini, ada harapan semakin memperkuat gerakan penyelamatan lingkungan hidup yang lebih baik dan pro rakyat yang selama ini sudah dibangun dan didorong oleh berbagai kelompok organisasi masyarakat sipil lainnya. Paling tidak semakin banyak orang yang mempermasalahkan persoalan industri ekstraktif ini maka semakin besar pula peluang kita untuk membongkar dan memperbaikinya. Buktikan!

Saturday, September 29, 2007

Vibrant! Hadapi tantangan fasilitasi dengan sepenuh hati

Minggu lalu tepatnya tanggal 21-22 September saya diminta memfasilitasi sebuah lokalatih advokasi tambang regional Kalimantan yang diselenggarakan oleh WALHI Kaltim dengan peserta 14 orang. Pelatihan bertempat di sekretariat Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) di Kuaro kabupaten Paser Kaltim. Dengan agenda dan target pelatihan yang cukup banyak termasuk dalam satu sesi saya juga mesti berperan untuk menjadi nara sumber sedangkan waktu yang diberikan cuma 2 hari membuat saya mesti mengerahkan energi memutar otak untuk membuat rencana prosesnya. Mulanya saya agak ragu dengan waktu yang cuma 2 hari tersebut namun kemudian saya teguhkan diri saya bahwa memang sudah menjadi tugas fasilitator untuk membantu perserta pelatihan dalam mencapai tujuan mereka dengan waktu yang terbatas. Saya kira disinilah letak tantangannya sebagai seorang fasilitator untuk menciptakan proses yang dapat membuat terjadinya vibrant efek. Dan tanpa ragu saya tetapkan alur dan prosesnya kemudian saya buat dalam bentuk power point.

Hanya sesampainya di lokasi pelatihan saya mendapatkan tantangan kedua, yaitu tempat pelatihan yang sangat tidak memadai, dimana tempatnya selain sempit juga berada di pinggir jalan sehingga suara lalu lalang kendaraan bermotor terdengar + tempat tersebut juga sekalian dijadikan tempat tidur para peserta dan saya sendiri. Padahal salah satu prasyarat belajar yang baik adalah lokasi belajar yang nyaman dan kondusif. Disini lagi-lagi saya ditantang untuk mampu meramu prosesnya dengan melihat kondisi yang ada. Namun untungnya sebagai seorang aktivis saya cukup terlatih dan sering bekerja dibawah tekanan dalam situasi yang tak terduga dan pengalaman tersebut tentunya cukup membantu saya dalam menghadapi situasi demikian untuk tidak menyerah menciptakan proses yang vibrant. Dalam benak saya apapun hasilnya itulah hasil terbaik yang bisa saya lakukan dan saya harus yakini itu, lakukan sepenuh hati.

Lokalatihnya sendiri saya mulai dengan perkenalan diri saya melalui slide yang kemudian saya lanjutkan dengan meminta peserta menggambar wajah mereka masing-masing pada selembar kertas yang kemudian saya bagikan kembali secara acak kepada peserta. Saya minta mereka untuk menemukan gambar siapa yang mereka pegang dan jika sudah ketemu mereka mesti saling berkenalan satu sama lainnya. Setelah semua saling menemukan dan berkenalan selanjutnya mereka memperkenalkan temannya masing-masing tersebut. Proses selanjutnya saya mintakan mereka untuk menuliskan namanya dan nama tokoh idola mereka dibawah nama mereka sambil mereka membayangkan akan tokoh tersebut dan teladan apa yang mampu mendorong semangat, kreativitas dan komitmen mereka terhadap lingkungan dan kemanusiaan yang kemudian mereka ceritakan satu persatu bergiliran sambil membayangkan bahwa mereka adalah tokoh tersebut. Semua tokoh mereka adalah gambaran orang-orang yang secara kuat berdiri pada garis memperjuangkan dan menegakkan keadilan. Pada titik ini saya ingin mendorong mereka menemukan bayangan diri yang jelas atas diri mereka dan apa yang akan diperjuangkan kedepan.

Dalam sesi materi dan diskusi, sebelum nara sumber memberikan materinya saya menggunakan metode menggambar dan membuat kliping dengan beberapa pertanyaan untuk mereka memahami tentang isu pertambangan dan bagaimana melakukan advokasi baru kemudian dipresentasikan dan didiskusikan. Alhasil mereka dapat menjelaskan cukup baik isu pertambangan dan bagaimana melakukan advokasi, stelah itu baru dipoles dan dikunci dengan materi. Selanjutnya saya meminta mereka untuk diskusi kelompok kembali dimana masing-masing orang dalam kelompok menceritakan pengalaman terbaiknya dalam melakukan advokasi kemudian menentukan dan memilih salah satu cerita terbaik untuk dipresentasikan. Hasilnya mereka mampu menguraikan mulai dari bagaimana menentukan isu dalam advokasi, menentukan tujuan, bagaimana proses perencanaan dilakukan, langkah2 advokasi sampai kepada keberhasilan yg dicapai. Pada titik ini lagi-lagi ternyata mereka dapat belajar bersama di dalam kelompok dan tugas saya hanya memfasilitasi bagaimana proses belajar bersama itu bisa berlangsung dan terjadi transpormasi pengetahuan diantara mereka.
Pada sesi perencanaan, saya minta mereka membayangkan perubahan yang terjadi pada 3 tahun kedepan, merumuskannya menjadi visi praktis dan kemudian membuat langkah-langkah strategisnya. Kemudian saya langsung masuk ke RTL, dengan memberikan pertanyaan apa langkah-langkah yang mereka bisa lakukan dalam waktu 3 bulan kedepan.
Sesi akhir pertemuan saya tutup dengan presentasi penutup yang berisi beberapa kalimat pertanyaan renungan dan kalimat bijak yang kemudian bersama-sama menyanyikan lagu "imagine"nya Jhon Lennon. Walau saya tidak sempat melakukan evaluasi di hari ke-2 (hari terakhir) namun saya dapat menangkap energi yang positip dari para peserta yang kelihatan tetap antusias.
Saya puas saya dapat menyelesaikan tugas saya sebagai fasilitator dengan baik walau ditengah kondisi yang kurang mendukung dan malah di akhir sesi saya mendapatkan energi positip yang cukup kuat. Berani menerima tantangan? lakukan dengan vibrant yang sepenuh hati!

Wednesday, September 26, 2007

Recharge

Dalam satu bulan terakhir, saya jarang sekali di kantor maupun ikut berbagai pertemuan formal. Saya diundang banyak balai adat dari komunitas masyarakat adat di kawasan Meratus dalam acara Aruh Adat Bewanang yang biasanya dilakukan selama 4 - 6 hari-malam. Aruh adat ini dilakukan sebagai ungkapan puji dan sukur setelah semua padi mereka di panen dari ladangnya. Hampir setiap tahun saya mesti menyediakan waktu untuk menghadari acara aruh tersebut, banyak balai adat yang mengundang untuk datang namun tentu tidak semua bisa saya datangi, karena kalau semua saya datangi mungkin selama tiga bulanan saya hanya akan keliling-keliling saja dari aruh adat di satu balai ke balai lainnya.
Apa yang menarik dari acara aruh adat tersebut sehingga saya mesti menghadirinya? Bagi saya selain memenuhi undangan mereka, bersilaturrahmi dan juga yang sangat terpenting saya selalu menikmati acara ritual mereka dalam melakukan "batandik" menari-nari mengelilingi segala macam "sesajen" yang diletakkan di tengah-tengah balai (rumah) adat dengan diiringi "mantera" dan musik tradisional mereka. Biasanya saya membiarkan diri saya ikut larut dalam irama musik dan hentakan kaki-kaki para "balian" yang menari-nari dan membacakan doa-doa mereka walaupun saya sendiri tidak mengerti apa yang mereka ucapkan. Sementara para "balian" itu sendiri terus menerus melakukan acara ritual siang dan malam tanpa tidur selama upacara berlangsung. Mereka berada dalam alam spiritualitas sehingga mampu tidak tidur selama berhari-hari. Kiranya suara musik, mantra-mantra dan keyakinanlah yang membantu mereka berkelana dalam alam spiritual sehingga mampu mengatasi kondisi fisik tanpa mesti kelelahan walaupun tidak tidur selama berhari-hari. Luar biasa! rupanya mereka sudah "vibrant" duluan dalam menggunakan kemampuan otak kanan dan imajinasinya dimana melalui ritual adat mereka mengoptimalkan kemampuan otak mereka dalam menjelajahi dunia maya untuk kembali kedunia sesungguhnya.
Saya sendiri selalau memanfaatkan suasana upacara tersebut untuk me-recharge kembali energi saya yang terkuras oleh berbagai aktivitas keseharian pekerjaan di kantor. Dan biasanya setelah itu saya selalu merasa nyaman dan penuh inspirasi atau paling tidak membangkitkan kembali antusiasme dalam diri saya.

Thursday, May 17, 2007

Brimob juga manusia!

Kemarin, Jumat, 11/05 selama 2 jam lebih dikit saya berada bersama-sama dengan para peserta Bintara Magang Polri Gelombang II tahun 2006 di kesatuan Brimob Kalsel. Saya dimintakan menjadi nara sumber ttg peranan LSM di masyarakat, lingkungan hidup dan keterkaitannya dengan tugas-tugas pokok Polri.
Saya mencoba untuk membuatnya menjadi vibrant dalam kesempatan tersebut sehingga beberapa hari sebelumnya saya sempatkan untuk meminta masukan dari semua rekan dimilis ini. Thanks sekali lagi atas berbagai masukannya dan juga special buat mbak Budsi dan Dendy yang telah mengirimkan dvd aninconvenient truthnya Al Gore.

Kami mesti menyiapkan semua peralatan (lcd, soundsistem-speaker aktif dan alat tulis/ gambar) karena ternyata yang namanya kesatuan Brimob Kalsel, mereka tidak memiliki alat-alat seperti lcd, kasihan juga ya kesatuan sebesar itu tidak punya alat-alat komunikasi-presentasi yang baik.

Sebelum pertemuan dimulai seperti biasanya ada prakata dulu dari para instruktur resmi mereka dalam suasana "kepolisian", semuanya duduk rapi (ada 15 peserta) dengan badan ditegapkan. Saya memulai sesi saya dengan menampilkan tayangan slide yang berisikan gambar saya, keluarga dan aktivitas saya sambil saya sedikit menjelaskan (perkenalan diri saya). Kemudian saya ajak mereka langsung untuk menonton film ttg "ambang batubara dan dampaknya" yang dibuat oleh kawan-kawan di Kalsel (sebelumnya saya ingin cuplik sedikit filmnya Al Gore namun karena terkendala teknis saya tidak sempat menyiapkannya padahal Dendy-Inspirit sudah mengirimkannya, thanks Den dan ngakpapa kan ngak jadi digunakan kali ini). Belum beberapa saat film diputar eh peralatannya ngadat dan saya coba perbaiki namun tetap tidak bisa. Kemudian saya segera minta Yayan (salah satu kawan yang menemani saya) untuk memperbaikinya dan saya langsung meminta para peserta berdiri untuk kemudian bernyanyi bersama dengan lagu "bukan lautan hanya kolam susu...." namun suara mereka masih belum begitu lepas....... lalu saya minta mereka untuk menyanyikannya berdasarkan versi mereka dan sebelumnya saya mintakan kepada para instrukturnya (yang terus nongkrong di depan dan disamping peserta) untuk membebaskan para peserta dari "adat kepolisian" dalam sesi saya, hasilnya luar biasa mereka bernyanyi dengan semangat dengan lagu yang digubah berdasarkan versi mereka dan suasana sudah mulai mencair sementara perbaikan yang dilakukan Yayan sudah berhasil. Semua kembali ke film.
Saya mintakan komentar mereka terhadap film tersebut dan ternyata komentarnya diluar dugaan saya dimana hampir 100% mereka sepakat dan sependapat dengan apa yang digambarkan dalam film tersebut. "Nama Fuguh, mohon izin bicara pak" kalimat seperti itu yang mereka ucapkan setiap kali mau bicara. Dalam komentarnya mereka juga mengutuk kelakuan perusahaan, menunjukkan kepedulian dan keberpihakan mereka kepada lingkungan dan rakyat dan disambungkan dengan pengalaman sebagian peserta yang desanya/ kampungnya ada pertambangan batubara, walaupun ada yang melihat itu karena kelemahan SDM rakyat kita dan bukan semata kesalahan perusahaan. Dari diskusi disini saya melihatnya mereka masih melihat persoalan lingkungan hidup dalam tataran persoalan teknis.
Selanjutnya saya minta mereka menggambar mengenai kondisi lingkungan hidup yang ideal menurut mereka, selesai menggambar mereka satupersatu saya minta menjelaskan gambarnya masing-masing. Ternyata semua peserta menggambarnya dalam bentuk gambar pemandangan alam dimana ada gunung dan sawah. Dan yang membedakan satu sama lainnya yaitu tambahan dari selain gunung dan sawah tersebut misalnya seperti ada industri di balik gunung dll. Namun ketika dalam penjelasannya, hasilnya luar biasa, ternyata mereka juga punya visi yang hampir sama dengan para pegiat lingkungan dalam memposisikan lingkungan hidup dimana mereka menggambarkan ttg keasrian, keserasian, kesejahteraan, keadilan dalam pengelolaan, pendidikan bagi masyarakat, interaksi antar pihak dan sektor. Setelah selesai menjelaskan gambar, mereka saya minta membagi dua kelompok, membuka kembali gambarnya dan meminta mereka untuk mendiskusikan dimana posisi mereka (brimob) digambar tersebut dan menjelaskannya. Hasilnya mereka menempatkan brimob ada di perbatasan, di kampung dan diperusahaan. Fungsinya sebagai keamanan, penegak hukum, mediator antar pihak jika ada konflik dan pengayom masyarakat. Mereka juga menyatakan bahwa sebagai polisi mereka mesti bersikap netral dalam melihat berbagai persoalan yang ada.
Setelah itu baru kemudian saya masuk dengan presentasi saya yang menggunakan powerpoint (yang berisikan lebih banyak gambar dan kliping koran) dimana secara singkat saya menjelaskan ttg lingkungan hidup dengan segala persoalannya, bagaiamana cara kita memandang persoalan lingkungan yang intinya bahwa persoalan lingkungan itu bukan persoalan teknis semata tetapi multidimensi dan intinya merupakan persoalan tatanan ekonomi politik yang tidak berkeadilan trus ditambah ttg peran LSM dan hubungan dengan peran Brimob kemudian dilanjutkan dengan diskusi. Dalam pemaparan saya, saya juga memaparkan bagaimana Brimob dihadapkan pada pilihan untuk berbenturan dengan aktivis dan rakyat, saya ceritakan berbagai sikap brimob yang "salah" dalam berbagai kasus penganiayaan dan penembakan oleh Brimob terhadap aktivitis dan rakyat. Dan seperti dugaan saya (kerena sudah disentuh sisi kemanusiaannya) tidak ada "perlawanan" dari mereka (termasuk para seniornya yang ada disana) terhadap statement saya tersebut. Saya tekankan "kelakukan" Brimob selama ini sebagai sebuah konsekuensi dari kebijakan tatanan ekonomi politik yang diambil oleh pemerintah dan ini yang mesti mereka untuk turut serta merubahnya. Hampir semuanya manggut-manggut (saya artikan sebagai sebuah persetujuan).
Terakhir sebagai penutup saya tampilkan cuplikan kalimat dari Mahatma Gandi dan Suku Indian Apace, trus foto anak saya dalam posisi memegang gitar dan selanjutnya mengalunlah lagu Imaginenya John Lennon sambil saya minta mereka semua untuk bernyanyi bersama.
Dalam kata penutup saya sempatkan untuk meberikan apresiasi kepada mereka dengan mengatakan bahwa Brimob kedepan akan dipimpin oleh orang-orang seperti mereka maka tidak akan ada lagi berbagai penganiayaan dan penembakan kepada rakyat.
Dan sebelum pulang instruktur mereka mengatakan dalam enam bulan kedepan akan ada lagi peserta magang dari Pusdiklat Brimob dan saya dimintakan untuk hadir lagi bersama mereka.